Ada yang berbeda di perayaan tahun baru 2016. Perubahan iklim menjadi isu utama dalam perayaan tahun baru kali ini, perayaan tahun baru yang biasanya bersamaan dengan musim hujan dengan intensitas yang tinggi tidak terjadi di awal tahun 2016. Hal ini menjadi nilai positif bagi terlaksananya kegiatan outdor yang bertajuk perayaan tahun baru. Di semarang, ribuan orang berkumpul di di pusat kota dan duduk bersila dilapangan simpang lima tanpa menghawatirkan turunnya hujan. Harapan harapan baru yang lebih baik tampak di setiap kecerian setiap orang yang hadir dan memadati lapangan tersebut. Hal ini tampak berbeda dengan perayaan perayaan tahun baru di tahun tahun sebelumnya. Perayaan tahun baru yang sebelumya identik dengan turunnya hujan tidak lagi terjadi di tahun 2016. Di sisi lain fenomena ini menjadi kekhawatiran bersama karena hujan adalah bagian siklus tahunan dan keseimbangan iklim.
Indonesia sebagai negara dengan iklim tropis, seharusnya memiliki curah hujan yang tinggi. Pada umumnya bulan januari adalah puncak dari musim hujan, dimana hujan akan turun sepanjang hari. Perubahan iklim ini terjadi karena pemanasan global yang terjadi di bumi.
Pembangunan daerah yang tidak terkonsep dengan baik, alih fungsi hutan menjadi perumahan dan perkebunan, pembalakan liar, emisi gas dari peralatan elektronik dan kendaraan bermotor, efek rumah kaca, adalah setumpuk faktor penyebab perubahan iklim yang selalu dikambing hitamkan. Sementara itu sebagian besar penduduk dunia lupa dan tidak mau mengakui bahwa manusialah yang menjadi faktor utama terjadinya perubahan iklim. Manusia menjadi aktor utama terjadinya kerusakan di bumi, dan manusia majusia jugalah yang bisa memperbaikinya.
Berbagai instansi, organisasi dan bahkan berlomba lomba menciptakan gerakan untuk mencintai lingkungan. Namun tidak sedikit juga lembaga, organisasi atau bahkan negarapun melakukan kerusakan diluar otoritas atau wilayah kekuasaanya dengan tujuan pemenuhan kebutuhan. Hal ini menjadi ironis karena kegiatan cinta lingkungan hidup seharusnya dilakukan secara menyeluruh bukan hanya di lingkungan sekitarnya saja. Kesadaran terhadap cinta lingkungan sebaiknya ada pada diri setiap manusia dan itu yang perlu ditanamkan, bukan mengkampanyekan gerakan cinta lingkungan yang tujuannya pencitraan saja dengan megharapkan keuntungan dari gerakan tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar