Dia membukakan gerbang dan menyuruhku duduk di tempat biasa saat main di kosnya, kursi biru dengan landasan miring dengan posisi duduk yang sama sekali tidak nyaman.
Ada yang berbeda dengan celana yang iya pakai. Ia tampak cantik dan lucu dengan model celana hitam yang lebar di bagian mata kaki. Model yang menurutku sudah usang dan mengingatkanku pada jaman SMP saat usiaku belasan tahun. Seperti biasa dia memulai pembicaraan dengan tawa lucunya. Dan kita pun berbicara dan mencicipi makanan yang ia masak sebelum aku datang.
Aku pun berkomentar dengan celana itu. Ini model celana lawas.. dengan bercanda ia membalas.. yee km ga tau ini reborn dan lagi mode saat ini. Aku tidak melanjutkan lagi pembicaraan itu dan menikmati masakan pertama yang ia masak buatku. Aku ingin suasana itu selalu ada dan terjaga seperti itu..
Kemudian aku mengantar dia bertemu dengan teman2nya karena ada sedikit pesta kecil yang mereka rencanakan. Kita berhenti di atm untuk mengambil uang dan sesudah itu ia meminta kembali di kos untuk mengambil sesuatu. Aku tidak tahu apa yang dia ambil.
Aku tahu malam hari setelah tidak lagi bersamanya. Dia ke kos dan menganti celana uniknya. Aku tidak tahu komentar ringanku jadi tekanan batin buatnya. Aku berdebat konyol gara2 celana malam harinya. Dia sebel dan bete dengan komentarku.. aku cuma bisa minta maaf meskipun aku tahu itu udah basi... Sampai aku berfiki untuk menghapus kata maaf dari kamus kehidupanku meskipun aku salah. Fikiran dia berkembang liar dan brutal dan menepis semua argumen2ku untuk meyakinkan bahwa aku tidak keberatan dengan apapun tentang dia. Berkomentar menurutku bulan berarti menolak.
Aku merasa terpukul saat dia mengatakan aku sebel sama kamu... 180” berbanding terbalik saat sore bertemu. Aku hanya bisa diam dan mengatakan dalam hati aku sama sekali tidak bermaksud membuatnya tersinggung. Aku sayang dia, aku cinta dia cuma itu yang selalu ada dihatiku. Aku berharap esok hari celana model usang itu hilang saja karena membuat dia sebel kepadaku.